KASIH SAYANG DALAM
PENDIDIKAN
Makalah Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Kelompok pada
Dosen
Pengampu: Saeful Millah, S.Pd.I.,M.Pd.I.
Disusun oleh:
Asep Bagja
Mulyawati
Nia Nurmiatun
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM
CIAMIS-JAWA BARAT
2015
KASIH SAYANG DALAM PENDIDIKAN
A. PENDAHULUAN
Pemahaman pendidik terhadap konsep kasih sayang mendasari
bagaimana sikap pendidik dalam menjalankan proses pendidikan sehingga anak
didik dapat belajar dengan suasana kehangatan dan menyenangkan. Tanpa kasih
sayang anak akan berkembang menurut kemauannya sendiri, karena pendidik sama
sekali tidak perduli terhadap perkembangan anak didiknya (Sadulloh, 2014: 155).
B. PERUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini terdapat 3 rumusan masalah yakni:
1. Apa definisi kasih sayang dalam pendidikan
2. Bagaimana dampak kasih sayang yang berlebihan
3. Apa peranan kasih sayang dalam pendidikan
C. PEMBAHASAN
1. Definisi Kasih Sayang dalam Pendidikan
Kasih sayang merupakan fitrah manusia, artinya setiap
manusia ditakdirkan oleh Allah memiliki kasih sayang terhadap sesamanya. Dalam
hal pendidikan, kasih sayang harus mendasari semua upaya dalam membawa anak
menuju tujuannya yaitu kedewasaan. Orang tua sudah seharusnya menumpahkan kasih
sayang terhadap anaknya selama mereka membimbingnya sampai mencapai dewasa.
Begitu juga guru sebagai pendidik, harus menyadari bahwa kasih sayang merupakan
syarat mutlak dalam melakukan interaksi dengan anak didiknya. Tanpa kasih
sayang, pendidikan tidak akan bermakna apa-apa (Sadulloh, 2014: 156).
Norma agama (Islam) amat berarti dalam memberikan
kesadaran pemeluknya akan pentingnya perilaku kasih sayang, lihat QS. AL-Fath
(48: 29): “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia
adalah orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesame mereka…” (Assegaf,
2004: 6).
Kasih sayang merupakan pola hubungan yang unik di antara
dua orang manusia atau lebih. Pola hubungan ini ditandai oleh adanya perasaan
sayang, saling mengasihi, saling mencintai, saling memperhatikan dan saling
memberi. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa, kasih sayang merupakan
kebutuhan asasi manusia, sehingga akan mempengaruhi kehidupannya (Sadulloh,
2014: 156).
Perasaan yang mengikatkan individu dengan sesama manusia,
perasaan untuk hidup saling memberi, menerima simpati dan antipati, saling
tolong menolong, rasa setia kawan dan sebagainya disebut perasaan sosial.
Perasaan melatarbelakangi dan mendasari aktivitas-aktivitas manusia. Karena itu
dalam memberikan pendidikan seharusnya diusahakan adanya perasaan yang dapat
membantu pelaksanaan usaha yang sedang dilakukan untuk mencapai tujuan yang
diharapkan (Suryabrata, 2004: 69).
Kasih sayang merupakan suatu penyerahan diri secara total
dari pendidik (orang dewasa) tanpa pamrih kepada anak didik, dengan tujuan
untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu kedewasaan. Kasih sayang dapat
mempengaruhi kehidupan rohaniah (mental) maupun jasmaniah (fisik). Secara
rohaniah anak dalam hidupnya akan penuh keceriaan, kesenangan dan kebahagiaan.
Secara jasmaniah anak-anak yang penuh limpahan kasih sayang orang tuanya,
pertumbuhan jasmaniah lebih sehat dari anak-anak yang kurang mendapat kasih
sayang. Anak yang besar dalam limpahan kasih sayang orang tua akan menjadi anak
yang memiliki hati yang hangat. Karena sudah merasakan kebahagiaan kasih sayang
dari orang tuanya, maka juga akan memperlakukan orang lain dengan penuh
kecintaan. Ketika dewasa ia akan belajar mencintai isterinya, anak-anaknya,
sahabat dan masyarakat sekitarnya secara maksimal.
Kasih sayang juga akan menyelamatkan anak-anak dari sifat kerdil. Anak-anak
yang kurang atau tidak mendapatkan kasih sayang orang tuanya akan tumbuh
sebagai anak yang terkucilkan. Ia akan membenci orang tua dan besar kemungkinan
akan menjadi anak-anak yang suka melakukan hal-hal yang berbahaya.
Dalam suatu riwayat, Nabi Musa as. bertanya kepada Allah
Swt., “Amalan apakah yang paling utama?” “Kasih sayang kepada anak-anak! Karena
fitrah mereka itu atas tauhid dan kalau Aku wafatkan anak-anak tersebut, maka
mereka akan Kumasukan ke surga!.” (Sadulloh, 2014: 158).
2. Dampak Kasih Sayang yang Berlebihan
Kasih sayang orang tua memang penting tapi kalau
berlebihan akan mendatangkan akibat yang tidak diharapkan. Kasih sayang itu
seperti air atau makanan, kalau diberikan dengan ukuran yang tepat dan dengan
jumlah yang tepat, maka akan memberikan hasil yang optimal, tapi kalau tidak
demikian akan berubah menjadi sesuatu yang tidak baik (Sadulloh, 2014: 158).
Sadulloh (2014: 159) mengatakan bahwa kasih sayang yang berlebihan dapat
menimbulkan dampak negatif diantaranya:
a.
Akan tumbuh sikap yang ingin selalu
diperlakukan secara istimewa. Sifat-sifat seorang otoriter dalam diri anak
semakin berkembang ketika orang tua selalu memenuhi segala keinginannya.
b. Anak yang selalu dimanja dapat mengalami masalah dalam kehidupan rumah
tangganya di kemudian hari, mungkin ia akan meminta dilayanii isterinya secara
sempurna.
c. Anak yang dibesarkan dalam asuhan kasih sayang yang berlebihan dapat
menjadi anak yang sangat rentan dengan masalah, kehilangan kepercayaan diri,
tidak berani mengambil resiko, tidak mau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang
penting dan selalu mengharapkan uluran tangan orang lain.
d. Anak tidak mau mengembangkan diri karena merasa cukup dengan apa yang
diterimanya. Orang tuanya telah memenuhi segala keinginanya, pujian dan
segalanya menjadi gambaran semu dirinya. Si anak jadi kehilangan kenyataan
tentang dirinya.
e.
Anak yang selalu dimanjakan dengan segala
kesenangan dan segala keinginanya selalu dipenuhi oleh orang tuanya, kalau
sudah besar mungkin akan tumbuh menjadi manusia yang sombong, suka memaksakan kehendak.
Menurut Husain Mazhariri dalam sadulloh (2014:160), bahwa
kasih sayang meninggalkan bekasnya secara positif pada anak dan menjadikan perilakunya
di masa yang akan datang memiliki sifat kasih sayang dan kecintaan. Sebaliknya,,
andaikan suatu kasih sayang hilang dalam rumah tangga dan rumah tangga menjadi
korban kebekuan dan kekerasan, maka masa depan anak akan terlempar pada
marabahaya dan kepribadiannya, di masa datang akan memiliki sifat-sifat
kekerasan dan emosional yang melampaui batas.
Jadi anak yang hidup tanpa kasih sayang orang tuanya, pada masa yang akan
datang setelah ia dewasa akan menampakkan kebenciannya terhadap masyarakat
sekitarnya dan menunjukkan ketidakperduliannya terhadap orang lain. Ia tidak
menunjukkan jiwa tolong menolong dan belas kasih sayang terhadap masyarakat
sekitarnya, sehingga ia menjadi manusia yang tidak berperasaan.
3. Peranan Kasih Sayang dalam Pendidikan
Sadulloh (2014:160-163) berpendapat dalam proses
pendidikan di sekolah dimana peran orang tua di gantikan oleh guru, pola
hubungan guru-anak perlu dilandasi kasih sayang agar terjalin ikatan perasaan
yang dapat mendukung tercapainya tujuan pendidikan. Peranan kasih sayang dalam
pendidikan di sekolah merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam pembentukan
sikap, kepribadian dan perilaku anak di samping peran keluarga dan masyarakat.
Banyak peran yang semestinya dilakukan oleh seorang guru dalam menjalankan
proses pendidikan, diantaranya:
a.
Guru Sebagai Pembimbing
Dengan kasih sayang yang diberikan oleh guru, anak akan
mendapatkan bimbingan untuk menjalani kehidupan, baik yang sedang dijalani saat
ini maupun bekal kehidupan di masa yang akan datang. Guru bagi anak sebagai
tempat bertanya, mengadu, meminta pendapat, berkeluh kesah, curhat, berlindung
dan posisi lainnya dalam diri seorang anak didik.
b.
Guru pembentuk Kepribadian
Pembentukan kepribadian anak di sekolah merupakan hal
yang tidak mudah, sulit kiranya dilakukan tanpa disertai dengan kasih sayang.
Guru di sekolah bertanggung jawab membimbing anak didik, menjadi manusia
bermoral, berhatii nurani, kasih sayang terhadap sesama dan sebagainya. Guru
harus menunjukkan sosok pribadi yang utuh, berpribadi stabil tidak emosional,
penghayatan dan pelaksanaan moral dalam semua aspek kehidupan, sehingga akan
menjadi teladan anak didiknya.
c.
Guru Sebagai Tempat Perlindungan
Di sekolah anak akan meminta perlindungan kepada gurunya,
gurulah yang menjadi tempat perlindungan bagi anak-anak tersebut. Pada kondisi
ini, guru semestinya berlaku bijaksana, mendengarkan masalah yang dihadapi
anak, memberikan nasihat dan sebisa mungkin menyadarkan tindakan yang dilakukan
anak atau bahkan berupaya menjembatani permasalahan anak dengan orang tuanya.
d.
Guru Sebagai Figur Teladan
Seorang guru yang ramah, hangat dan selalu tersenyum,
tidak memperlihatkan muka musam atau kesal, merespon pembicaraan atau
pertanyaan anak didik, akan menumbuhkan kondisi psikologis yang menyenangkan
bagi anak. Anak tidak takut berbicara, dapat mencurahkan isi hatinya saat
menghadapi masalah dan anak akan senang melibatkan diri dalam kegiatan di
sekolah. Perilaku anak didik yang terbentuk ini pada dasarnya merupakan hasil
dari mencontoh atau meneladani perilaku yang diperlihatkan pendidik dengan
penuh kasih sayang.
e.
Guru Sebagai Sumber Pengetahuan
Dalam proses pembelajaran dimana terjadi transformasi
pengetahuan, sikap memberi dan melarang semestinya dilakukan dengan hati-hati
terhadap anak didik. Pengetahuan dapt merubah sikap dan perilaku anak,
perubahan dapat positif apabila pengetahuan yang diterima anak sesuai dengan masanya
dan sebaliknya apabila tidak sesuai akan membentuk perilaku anak yang negatif.
Pullias dan Young, Manan serta Yelon and Weinstein dalam
Mulyasa (2010: 37) mengidentifikasikan sedikitnya 19 peran guru yakni, guru
sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu (inovator),
model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit
pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa ceritera, aktor, emancipator,
evaluator, pengawet dan sebagai kulminator.
D. KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat kami tarik 3 kesimpulan
yakni:
1. Definisi kasih sayang dalam pendidikan
a. Kasih sayang merupakan pola hubungan yang unik di antara dua orang manusia
atau lebih. Pola hubungan ini ditandai oleh adanya perasaan sayang, saling
mengasihi, saling mencintai, saling memperhatikan dan saling memberi. Dengan
demikian, maka dapat dikatakan bahwa, kasih sayang merupakan kebutuhan asasi
manusia, sehingga akan mempengaruhi kehidupannya (Sadulloh, 2014: 156).
b. Kasih sayang merupakan suatu penyerahan diri secara total dari pendidik
(orang dewasa) tanpa pamrih kepada anak didik, dengan tujuan untuk mencapai
tujuan pendidikan yaitu kedewasaan.
2. Dampak kasih sayang yang berlebihan antara lain:
c. Akan tumbuh sikap yang ingin selalu diperlakukan secara istimewa.
Sifat-sifat seorang otoriter dalam diri anak semakin berkembang ketika orang
tua selalu memenuhi segala keinginannya.
d. Anak yang selalu dimanja dapat mengalami masalah dalam kehidupan rumah
tangganya di kemudian hari, mungkin ia akan meminta dilayani isterinya secara
sempurna.
e. Anak yang dibesarkan dalam asuhan kasih sayang yang berlebihan dapat
menjadi anak yang sangat rentan dengan masalah, kehilangan kepercayaan diri,
tidak berani mengambil resiko, tidak mau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang
penting dan selalu mengharapkan uluran tangan orang lain.
f. Anak tidak mau mengembangkan diri karena merasa cukup dengan apa yang
diterimanya. Orang tuanya telah memenuhi segala keinginanya, pujian dan
segalanya menjadi gambaran semu dirinya. Si anak jadi kehilangan kenyataan
tentang dirinya.
g. Anak yang selalu dimanjakan dengan segala kesenangan dan segala keinginanya
selalu dipenuhi oleh orang tuanya, kalau sudah besar mungkin akan tumbuh
menjadi manusia yang sombong, suka memaksakan kehendak.
3. Peranan kasih sayang dalam pendidikan terutama dalam pendidikan di sekolah
merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam pembentukan sikap, kepribadian dan
perilaku anak di samping peran keluarga dan masyarakat. Banyak peran yang
semestinya dilakukan oleh seorang guru dalam menjalankan proses pendidikan,
diantaranya:
a. Guru sebagai pembimbing
b. Guru pembentuk kepribadian
c. Guru sebagai tempat perlindungan
d. Guru sebagai figur teladan
e. Guru sebagai sumber pengetahuan
DAFTAR PUSTAKA
Sadulloh, Uyoh. 2014. PEDAGOGIK (Ilmu Mendidik). Bandung:
Alfabeta.
Assegaf, Abd. Rachman. 2004. Pendidikan Tanpa Kekerasan. Yogyakarta:
Tiara Wacana Yogyakarta
Suryabrata, Sumadi. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Mulyasa, E. 2010. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar